Handaya Aji – Yoyok : Pacitan Masa Depan

Membela Masyarakat, untuk Keadilan dan Kebenaran

Ikon Rakyat Itu Jadi Korban Kesewenang-wenangan?

Posted by handayaaji pada Agustus 25, 2010

Handoyo Aji Terkesan Dibungkam dengan Dijadikan Tersangka

PACITAN – Wakil ketua DPRD Pacitan, Handoyo Aji yang tengah menjadi buruan Polres Pacitan, seakan telah menjadi ikon bagi masyarakat. Beberapa kiprahnya untuk memperjuangkan nasib wong cilik, seakan berkebalikan dengan tuduhan yang disangkakan kepadanya. Bahkan, banyak pihak menilai bahwa dugaan kasus penggelapan sebagaimana tuduhan penyidik Polres Pacitan itu mengandung muatan politis.
Menjadi ikon? Ya, banyak tindakan kokrit yang telah dilakukan hingga mantan Kades Losari ini dikatakan sebagai ikon. Antara lain ikon penolakan tambang yang merusak lingkungan, atau ikon dalam memerjuangkan bagi hasil tambang.

Termasuk, ikon dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat dari akses kebijakan publik. Hal itu dapat terlihat dari beberapa kiprahnya, antara lain dalam kasus pembebasan lahan Jalur Lintas Selatan (JLS) yang senyatanya merugikan sebagaian masyarakat karena nilai ganti rugi jauh di bawah nilai pasar, bahkan juga jauh di bawah Nilai Jual Objek Pajak (NJOP).

Selain itu, politisi PKS yang akrab disapa Yoyok ini juga pernah memerjuangkan pedagang pasar dari kenaikan sewa bidak pasar yang mencapai rata-rata 100 persen. Hingga, beberapa kegiatan advokasi yang lain, termasuk menolak penyewaan yang terlalu murah atas Pantai Teleng Ria Pacitan yang menjadi kebanggaan warga Pacitan.
Selain sebagai ikon perlawanan beberapa kebijakan pemerintah daerah khususnya Bupati Sujono, Yoyok juga dikenal sebagai seseorang yang bersahaja dengan penolakannya terhadap semua gratifikasi. Dan selalu vokal terhadap siapa pun yang merugikan masyarakat. Itu salah satunya tercermin dengan sikapnya menolak menandatangani APBD 2010 yang dinilai tidak berpihak karena terjadi penurunan belanja langsung yang signifikan dan tidak adanya pemasukan dari tambang yang bermasalah tersebut.

Selain rincian singkat tersebut, mencuatnya Yoyok sebagai ikon masyarakat antara lain diawali ketika adanya pembukaan lokasi pertambangan oleh PT Gilang Limpah Internusa (GLI) di Desa Kluwih Kecamatan Tulakan dan Desa Kasihan KecamatanTegalombo. Celakanya, berdasarkan informasi dari beberapa penelitian yang telah dilakukan, beroperasinya areal tambang tersebut membawa dampak negatif. Salah satunya adalah kerusakan alam di lokasi tambang dan sekitarnya.

Dari adanya dampak negatif tersebut, beberapa kali warga Desa Kluwih, Pagerjo, dan sekitarnya mengadukan permasalahan tersebut kepada DPRD Pacitan. Sayangnya, seperti upaya yang sia-sia, tidak ada solusi yang berpihak kepada masyarakat.

Entah apa yang ada di benak aparat dan pemerintah daerah sehingga penambangan yang begitu mencemari dan beroperasi selama tiga tahun lebih tidak dihentikan. Padahal, dokumen Amdal diketahui baru diproses pada pertengahan tahun 2010 ini.

Sebagaimana data yang dihimpun wartawan ini, tambang timah yang dilakukan perusahaan tersebut selain merusak lingkungan, juga dilakukan dengan cara penerowongan pada bagian bawah tanah hak milik masyarakat sekitar. Alhasil, beberapa masyarakat sekitar mengaku takut mengelola tanahnya karena berada di atas terowongan.
Lebih celakanya lagi, kegiatan penambangan yang dilakukan dengan cara ‘gila’ itu juga tidak memberikan bagi hasil kepada APBD Pacitan. Padahal infrastruktur yang dibangun dari APBD telah rusak.
Berdasarkan catatan sebelumnya, beberapa pihak yang merasa menjadi korban ‘kekejaman’ ibarat ‘rezim liberal’ itu telah beberapa kali melakukan upaya. Termasuk melakukan penutupan tambang yang tidak memberikan bagi hasil dan dilakukan dengan cara penerowongan tanah milik warga tanpa izin dari pemilik tanah.
Dari beberapa kali hearing yang telah dilakukan, seakan telah menunjukkan bahwa pemerintah daerah memang telah mengambil sikapnya. Yakni lebih membela mati-matian penambang yang telah menyebabkan pencemaran lingkungan tersebut.

Pernah suatu ketika, karena kekecewaan telah memuncak, masyarakat yang terkena pencemaran dan pemilik tanah itu, nekat memblokir akses masuk ke areal pertambangan. Sayangnya, mereka justru diintimidasi. Hingga akhirnya penutupan tersebut dibuka secara paksa oleh Polres Pacitan yang dipimpin langsung AKBP Wahyono, Kapolres Pacitan kala itu. Sikap tersebut dilakukan Polres Pacitan dengan menggunakan bumper beberapa pekerja tambang. Celakanya, sikap tersebut berbuntut panjang. Dua orang pendamping masyarakat dari LSM Ampuh Pacitan disurati oleh Polres Pacitan.

Penolakan warga dan sebagian LSM terus berlanjut. Hingga akhirnya Handoyo Aji, pembina LSM Ampuh yang juga wakil ketua DPRD Pacitan ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus penggelapan yang terjadi Tahun 1999 sebagai ketua kelompok tani di Desa Losari, Kecamatan Tulakan.

Meski begitu, tentu Handoyo Aji bukanlah seseorang yang semata-mata pantas dianggap malaikat yang bersih dari kesalahan. ”Upaya hukum yang dilakukan Polres Pacitan tentunya harus bisa berjalan sesuai rule yang ada. Sepanjang, tindakan itu bukan untuk kepentingan yang lain. Apalagi jika hal itu dilandasi sikap benci atau tidak suka atas sikap vokalnya seseorang. Jika hal itu terjadi, artinya telah terjadi penyalahgunaan wewenang penegakan hukum,” ungkap salah satu pengamat hukum asal Pacitan.

Di samping itu, lanjut pengamat tersebut, akan lebih elok apabila laporan warga Desa Kluwih atas penyerobotanlahan tersebut yang ditangani lebih awal oleh penyidik. ”Dan bukan malah menjadikan pelapor sebagai tersangka atas kasus lain. Apalagi terjadinya Tahun 1999, sebagaimana yang terjadi kepada saudara Handoyo Aji. Tentu, hal ini harus mengedepankan azas praduga tidak bersalah,” tegasnya.
Pengamat itu juga menyesalkan apabila tindakan menetapkan status tersangka kepada Handoyo Aji tersebut sengaja dilakukan untuk menghentikan aktivitas penolakan terhadap tambang dan menghentikan segala kegiatan pendampingan masyarakat.

”Sungguh celaka besar jika penegakan hukum dipakai untuk menghentikan kegiatan pendampingan masyarakat dan membungkam sikap vokal seseorang,” keluhnya. ”Sejatinya, proses pemidanaan dilakukan dengan tujuan menimbulkan efek jera (deterent effect) terhadap pelaku supaya tidak mengulanginya lagi,” imbuhnya.
Sesungguhnya, masyarakat terlanjur menganggap Handoyo Aji sebagai ikon pendampingan masyarakat. ”Tidak pantas apabila seseorang yang vokal dan aktif mendampingi masyarakat itu dikriminalisasikan demi kepentingan penguasa daerah. Yang justru harusnya dikriminalkan adalah para koruptor yang selama ini tidak tersentuh sama sekali oleh Kejaksaan Negeri Pacitan yang notabene Nol Besar dalam menangani kasus korupsi di Pacitan,” tegasnya.
Kalau pun ada yang harus disegerakan untuk disidang, lanjutnya, adalah pihak-pihak tak bertanggungjawab, seperti penambang liar. ”Bukan aktivis yang vokal yang malah dipidanakan. Gimana sih?” geramnya.

Diinformasikan, pabrik pengolahan tambang yang berada di tengah sungai Grindulu yang menjadi kebanggaan warga Pacitan, berpotensi meracuni warga karena selama ini tidak ada Instalasi Pengolahan Limbah. Tetapi limbah pabrik timah itu hanya ditampung dalam kolam penampungan yang setiap waktu bisa kebanjiran dan akan mengalir ke dalam sumber air PDAM yang berada tidak jauh dari kolam penampungan tersebut. Dan, adanya hal tersebut, hingga kini tidak ada solusi atau sikap dari pemerintah setempat untuk menanggulanginya. Meski, beberapa aktivis lingkungan dan warga seringkali melakukan protes. ”Apalagi ada upaya untuk melakukan penyidikan terhadap penambangnya. Termasuk menelusuri seberapa besar pemasukan yang telah diberikan kepada APBD Pacitan. Ya bagaimana lagi, orang-orang yang berkuasa di Pacitan tampaknya senang membungkam orang vokal seperti Handoyo Aji ketimbang mendengar keluhan warganya,” pungkas pengamat hukum tersebut dengan penuh kekecewaan. (WKA)

sumber : http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=14&jd=Ikon+Rakyat%2C+Korban+Kesewenang-wenangan%3F&dn=20100821160148

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: