Handaya Aji – Yoyok : Pacitan Masa Depan

Membela Masyarakat, untuk Keadilan dan Kebenaran

PACITAN, Lingkungan Hidup Rusak karena Tambang

Posted by handayaaji pada Agustus 27, 2010

Laporan Hasil Riset

A. PENGARUH PT. DRAGON FLY MINERAL INDUSTRI TERHADAP DAMPAK LINGKUNGAN DAN SOSIAL MASYARAKAT DESA PAGUTAN

Deskripsi PT. DFMI
Perusahan berdiri dengan nama Perseroan Terbatas (PT) Dragon Fly Mineral Industri (DFMI). Berlokasi di JL. Raya Pagotan no 66, kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan. Lokasi usaha berjarak 15 Km dari pusat kota Pacitan. Lokasi usaha menempati 60.000m2, lahan terbuka 24.200m2 dan lahan cadangan 5.000m2, dan terletak di Pinggir sungai Grindulu, dengan nama Penanggung Jawab sekaligus Direktur Kwartono Iriyanto. PT. DFMI adalah perusahaan yang mengolah bahan tambang Zinc dan Copper untuk menghasilkan produk bahan tambang setengah jadi berupa Zinc dan Copper Concetrate. Dalam produksi pabrik memerlukan air 60.400 m3/bulan atau rata-rata 23.231 m3/hari, mengingat daerah Kabupaten Pacitan wilayahnya 88% terdiri dari dataran tinggi, untuk mendapatkan tapak yang datar dan memudahkan mendapatkan air, pabrik ini di bangun di pinggir sungai Grindulu yang merupakan lahan sawah.

. Tujuan awal proyek pembangunan PT DFMI adalah :
1. meningkatkan sektor ekonomi dan pendapatan daerah melalui sektor industri pertambangan.
2. meningkatkan harga jual hasil tambang dengan cara mengolah biji mineral hasil tambang menjadi bahan setengah jadi Zinc dan Copper Concentrate.
3. menciptakan lapangan kerja baru mulai dari tahap pra konstruksi hingga oprasional bagi masyarakat khususnya yang tinngal di sekitar kawasan industri
4. menarik investor baik dari dalam negri maupun PMA.

Sumber bahan baku pabrik pengolahan tambang PT DFMI berasal dari tambang di Desa KLUWIH kecamatan Tulakan kabupaten Pacitan sekitar 47 KM dari Desa Pagotan. Dengan kuasa pertambangan eksploitasi oleh PT Gemilang Limpah Internusa dengan direktur yang sama dengan PT DFMI yaitu Kwartono Iriyanto. Sarana Transportasi pengangkutan hasil tambang dari lokasi penambangan PT GLI ke pabrik PT DFMI menggunakan Dam Truck. Kapasitas produksi bahan baku batu Copper 27.000 ton/tahun dan batu Zinc 63.000 ton/tahun bahan tersebut menghasilkan Copper concentrate 63.000 ton/tahun dan Zinc Concentrate 1.350 ton/tahun. Proses yang di lakukan adalah Grinding batu hingga mencapai ukuran tertentu dengan Floatation dengan menambahkan bahan kimia yang bersifat asam .

Laporan Masyarakat Desa Pagotan
Berawal dari pembangunan proyek PT DFMI pada tahun 2008, timbul keresahan masyarakat. Keresahan yang terjadi disebabkan oleh berdirinya pabrik pengolahan yang dilakukan oleh PT. DMFI. Keresahan masyarakat tersebut saat ini belum dapat di selesaikan masyarakat itu sendiri, Pemerintahan Desa, Pemerintahan Daerah maupun PT DFMI. Penyelesaian masalah tersebut sangatlah kurang sehingga membuat masalah ini semakin berlarut dan hanya menjadi pembicaraan kelompok tertentu saja tanpa jelas bagaimana penyelesaiannya.

Adapun beberapa masalah yang menjadi keresahkan masyarakat, antara lain:
1. Status Tanah Masyarakat yang masih mengambang.

2. Dampak dari pembangunan pabrik yang mengakibatkan banjir dan erosi

3. Pencemaran:
AIR : Pengelolaan limbah / IPAL dari proses Produksi
SUARA : Tingkat kebisingan

4. Ijin kegiatan Pabrik PT DFMI

5. Standard Operational Procedure dan jaminan bagi tenaga kerja PT DFMI Status Tanah

Menurut laporan Warga Desa pagutan dari 4 dusun: Pajaran, Krajan, Arjosari, dan Nguteran. Pabrik PT DFMI berdiri pada lahan warga, terdapat 67 orang pemilik lahan dengan status tanah Letter C. Masyarakat pemilik tanah tempat pabrik berdiri masih mempertanyakan proses tukar guling atanah individu masyarakat dengan tanah bengkok desa. Pada prosenya, masyarakat diberikan surat pernyataan Penyerahan / pelepasan hak atas tanah (tertangal .-.- tahun 2008) (dilampirkan) yang di sebarkan oleh pemerintah desa. Tukar guling tanah antara tanah masyarakat dengan tanah bengkok desa sudah berjalan dan pabrik sudah berdiri diatas tanah masyarakat namun kejelasan kepemilikan tanah masyarakat akibat tukar guling tanah tersebut menjadi terkatung-terkatung. Terkatung-katung karena tanah bengkok desa tidak dapat dipindah tangankan, apalagi di sertifikatkan atas nama perorangan sehingga dengan kata lain masyarakat yang tanahnya ditukar gulingkan secara tidak langung kehilangan hak milik atas anahnya.

Pada saat di konfirmasi pada PT DFMI, Bapak Eko (seorang pejabat PT DMFI) mengatakan bahwa permasalahan status tanah sudah selesai karena sudah dapat persetujuan dari Warga yang di urus melalui Camat. Sehingga katanya jika ada permasalahan di tingkat bawah (masyarakat) PT DFMI tidak tahu karena langsung berhadapan pada camat daerah tersebut. Selain itu kumpul warga  / muyawarah Desa yang seharusnya menjadi proses dengar pendapat antara masyarakat, pemerintahan desa dan PT DMFI disalah gunakan. Laporan dari warga bahwa presensi daftar hadir warga dijadikan kertas kesediaan warga untuk mendirikan pabrik pengolahan PT DMFI. Harapan masyarakat, PT. DFMI mau secara langsung mangklarifikasi permasalahan yang ada. Bagaimana pun PT DFMI berada di tengah2 lingkungan desa Pagutan. Permasalahan tanah bukan hanya hubungan sepihak anatara warga dengan pemerintah Desa ataupun pemerintah desa dengan PT DFMI saja.

Dampak Dari Pembangunan Pabrik yang Mengakibatkan Banjir dan Erosi . Menurut data sungai Grindulu berciri intermittent dan hampir tidak ada aliran air di musim kemarau. Ciri sungai Grindulu adalah banjir di musim penghujan pada DAS bagian hilir dan kekeringan di musim kemarau. Pola aliran air pada daerah aliran sungai Grindulu selalu berubah ubah dari tahun ke tahun.pola ini terutama dipengaruhi oleh besarnya debit air dan tingkat endapan, karakteristik batuan endapan yang masuk sungai Grindulu pada musim penghujan,sehingga alurnya selalu berubah-ubah setiap tahunnya. Pabrik pengolahan tambang PT DFMI berada di tengah sungai Grindulu menurut keterangan masyarakat desa Pagotan. Karena karakteristik sungai dan pola aliran sungai yang berubah maka aliran sungai yang dahulu berada di lokasi pabrik berada bergeser kearah tanah milik warga. Dengan berdirinya pabrik di aliran sungai tersebut, maka aliran sungai yang sudah bergeser tersebut tidak akan kembali pada aliran semula.

Hal ini lah yang menjadi dasar pernyataan Eko saat di konfirmasikan masalah banjir. ia menyebutkan bahwa aliran sungai tidak pernah tetap dan keberadaan pabrik tidak mengganggu aliran sungai Grindulu. Laporan warga menyebutkan bahwa adanya pabrik membuat hempasan air menjadi semakin besar dan menyebabkan terkikisnya daerah pinggiran sungai dan ada yang sampai badan jalan raya.pada tahun 2007 terjadi banjir yang menurut warga adalah banjir terbesar dan sebelum adanya pabrik tidak pernah debit airnya sampai setinggi tahun 2007 itu.

Melihat hal itu, perlu di cari data tentang perpindahan arus aliran sungai Grindulu setiap tahunnya sehingga dapat disimpulkan berapa besar lahan dari sunggai yang di ganggu oleh adanya pabrik PT DFMI. Harapan warga juga dibuatkannya tanggul untuk meminimalisir banjir yang dapat sewaktu- waktu terjadi apalagi musim penghujan.

Selain permasalahan banjir yang timbul, juga terjadi permasalahan pengikisan tanah yang disebabkan oleh berdirinya pabrik tersebut. Berdirinya pabrik tersebut membuat aliran sungai berbelok dan aliran air tersebut menabrak tanah masyarakat sehingga menyebabkan pengikisan tanah. Pengikisan tanah tersebut sudah memakan lahan warga hampir 15 meter. Pengikisan yang terjadi menyebabkan terganggunya perekonomian warga karena kehilangan lahan mata pancahariannya. Bapak Sugiarto misalnya, warga dusun Pogutan harus kehilangan kandang ayam yang dia punya karena tanah yang terkikis sudah sampai pada kandang ayam miliknya, hal tersebut menyabkan bapak Sugiyarto tersebut kehilangan tanah serta mata pencariannya sekaligus. Pengikisan tersebut sebagian besar terjadi di dusun pajaran.

Dalam menangani permasalahan diatas, PT DMFI menyatakan :
1. Sanggup malakukan pembangunan tebing sungai pabrik sebagai proteksi terhadap lingkungan, pabila terjadi kerusakan akibat keberadaan bangunan pabrik.
2. Sanggup membongkar bangunan yang melanggar sepadan sungai. 3. Serta akibat/kerugian yang ditimbulkan pencemaran limbah pabrik, baki selama pelaksanaan maupun beroperasinya pabrik tersebut menjadi tanggung jawab pemilik pabrik.

Pencemaran dan kerusakan
. AIR
Pengelolaan limbah / IPAL dari proses Produksi
Pengaduan tentang Limbah PT DFMI juga menjadi permasalahan. Pembuangan akhir limbah hanya di alirkan ke sebuah danau/kolam buatan PT DFMI. Sehingga menimbulkan pertanyaan oleh warga mengenai pengolahan limbah yang dilakukan oleh pabrik tersebut karena selama ini PT DFMI tidak pernah mensosialisasikan meskipun telah timbul pertanyaan dari masyarakat. Pada pengolahan limbah tersebut belum ada Instalasi Pembuangan Air Limbah (IPAL), hal ini diketahui dari surat pernyataan yang ditandatangani Direktur PT. Dragon Fly Mineral Industry Kwantoro Iriyanto tertanggal 12 January 2009. Pembangunan IPAL tersebut paling lambat 6 bulan dari tanggal surat pernyataan tersebut ditandatangani.

Eko menjelaskan pada saat proses pengolahan/proses produksi PT DFMI tidak mengunakan ZAT kimia apapun. Namun dalam AMDAL PT DFMI disebutkan beberapa zat kimia yang di gunakan untuk proses pengolahan dari bahan baku ke bahan setengah jadi berupa concentrate. Bahan kimia yang digunakan antara lain:

No Bahan Penolong Kapasitas (%) Sifat Bahan
1. Cao 0,3 Tidak Berbahaya
2. Na2S 0,2 Berbahaya
3. Zn.SO4 0,2 Berbahaya
4. Na2SO4 0,2 Berbahaya

Sampai sejauh ini baru masuk 1 laporan perubahan air sumur warga yang letaknya sekitar 20 meter dari penampungan air IPAL PT DFMI. Awalnya sumur tersebut biasa di gunakan untuk konsumsi tapi dalam 3 bulan terakhir sudah tidak bisa lagi (karena perubahan rasa air) namun belum dapat dipastikan hal itu terjadi karena sangkut paut keberadaan IPAL atau bukan karena belum di lakukan Uji pada sumur tersebut. Selain itu dikhawatirkan juga saat terjadi banjir penampungan IPAL akan teremdam oleh air dan d khawatirkan limbah memiliki kandungan berbahaya sehingga menimbulkan pencemaran lingkungan.

. SUARA
Tingkat Kebisingan
Warga dusun arjosari juga mengangkat masalah suara bising saat oprasional pabrik apalagi disaat jam istirahat sekitar jam 10.00 malam yang dinilai sangat mengganggu masyarakat namun hal ini sudah mulai berkurang tingkat kebisingannya dalam 3 bulan terakhir ini (Laporan bulan Mei 2009)

Kerusakan Jalan
Kerusakan jalan tidak dapat perhatian dari PT DFMI sehingga jalan Desa menjadi rusak dan saat hujan banyak genangan air. Kalau saat ini akibat dari jalan rusak yaitu adanya debu.jalan ini semakin rusak akibat dilalui oleh Dam truck tiap harinya.

Izin Pendirian Pabrik
Kegiatan-kegiatan yang membahayakan lingkungan harus melakukan kajian mengenai dampak lingkungan. Pasal 15 Undang-undang Pengelolaan Lingkungan Hidup menyebutkan:

“Setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup, wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup.”

Serta pasal 18 menyebutkan:

“Setiap usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup untuk memperoleh izin melakukan usaha dan/atau kegiatan.” Dalam pengertian diatas bahwa, analisis dampak lingkungan dibuat sebagai salah satu proses dalam memperoleh izin kegiatan sehingga analisis dampak lingkungan sudah selesai dibuat sebelum izin dikeluarkan. Namuin yang terjadi ialah analisis dampak lingkungan PT DMFI belum selesai dibuat tetapi kegiatan pengolahan sudah berjalan. Dengan kata lain Pasal 18 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup disimpangi oleh PT DMFI. Hal ini terlihat saat WALHI berada di Desa Pagotan, Pacitan PT DFMI mengadakan pertemuan dengan Dinas terkait masalah evaluasi AMDAL tetapi pertemuan dibatalkan karena pihak Dinas hanya mau jika yang
mempresentasikann hanya pimpinan perusahaan namun pada kenyataannya hanya disambut oleh staff perusahaan saja sehingga pertemuan dibatalkan serta pengakuan dari pemerintah desa setempat.

Saat dikonfirmsai, Bapak eko menyebutkan bahwa PT DFMI sudah memiliki ijin pendirian atau operasional. Beliau menggambarkan bahwa tidak mungkin dapat mengekspor produk pengolahan tambang tersebut jika belum memperoleh izin.

SOP karyawan dan jaminan kesejahteraan Karyawan.
Kurangnya perhatian pabrik menganai safety procedure di khawatirkan oleh para pekerja, terlebih pada bagian produksi karena mereka langsung berinteraksi oleh proses pengolahan yang mengunakan zat kimia. Mereka mengeluhkan kurang perhatian PT DFMI pada peralatan keselamatan seperti sarung tangan dan masker. Mereka mengeluhkan bau menyengat saat proses pengolahan untuk itu masker sangat di perlukan. Namun mereka baru mendapat masker saat mereka meminta, bukan kebijakan dari PT DFMI dan mereka menanyakan kandungan dari zat yang mereka hirup namun tidak ada yang bisa/mau menjelaskan.

Masalah tenaga kerja tetap dan harian yang dinilai sangat pas-pasan tanpa ada jaminan kesejahteraan lainnya. Jadwal yang tidak pernah tetap, bisa tiba-tiba libur atau masuk juga menjadi penganjal oleh karyawan. Hal ini di perkuat oleh laporan tenaga kerja PT DFMI yang jam kerjanya tidak dapat di tentukan kadang kerja dan kadang libur ataau pun hanya setengah hari. Namun hal ini di sanggah oleh bapak Eko, ia mengatakan bahwa PT DFMI sedang dalam masa sulit karena terkena dampak dari krisis global sehingga kinerja pabrik belum maksimal karena efisiensi biaya produksi juga.

B. PENGARUH KEGIATAN PENAMBANGAN TEMBAGA DARI PT. GEMILANG LIMPAH INTERNUSA (GLI) DI DESA KLUWIH, KECAMATAN TULAKAN, PACITAN TERHADAP KETERSEDIAAN AIR DAN KONDISI LINGKUNGAN

B. 1. KETERSEDIAAN AIR DAN PENCEMARAN LINGKUNGAN
PT. Gemilang Limpah Internusa (GLI) mulai beroperasi di Desa Kluwih sejak tahun 2008. PT. GLI sendiri mulai melakukan aktivitas kegiatan penambangan sejak mengambil alih dari PT. Bogor Perkasa yang melakukan kegiatan penambangan di Desa Kuwih sejak tahun 2007. Kegiatan penambangan yang dilakukan oleh PT. GLI menuai banyak protes dari warga terkait dengan dampak yang ditimbulkan dari kegiatan penambangan terhadap lingkungan. Ketidak pedulian pihak perusahaan terhadap lingkungan ditunjukkan dari tidak disediakannya fasilitas IPAL untuk penampungan limbah dari kegiatan penambangan tersebut. Selain itu penggunaan alat peledak dalam kegiatan penambangan juga dinilai warga sekitar menimbulkan dampak polusi terhadap suara dan udara. Penggunaan alat peledak ini sendiri bertentangan dengan izin semula dalam melakukan kegiatan beroperasi di tambang. Pada mulanya perusahaan menyatakan bahwa akan melakukan kegiatan penambangan secara tradisional (tidak menggunakan peldak).

Tidak disediakannya pengolahan limbah ini kemudian berdampak tercemarinya air sungai Dawuan, sebagai salah satu sumber air bagi masyarakat di Desa Kluwih, terutama di musim kemarau. Hal ini diakibatkan karena limbah tambang yang dibiarkan begitu saja terbawa aliran air hingga masuk ke dalam sungai. Sementara limbah tambang tersebut mengandung bahan beracun karena penggunaan bahan peledak dalam kegiatan penambangan yang dilakukan.

Memang belum terdapat penelitian laboratarium mengenai kandungan bahan beracun yang terdapat di dalam air sungai, akan tetapi dari bukti-bukti lain yang ditemukan di lapangan selama peneliti melakukan riset dapat diketahui bahwa memang terdapat indikasi teracuninya air sungai.

Indikasi tersebut ditunjukkan dengan adanya perubahan warna, rasa dan bau dari air sungai Dawuan. Dari keseluruhan warga yang ditemui oleh peneliti, 100% menyebutkan bahwa memang terdapat perbedaan kondisi air sungai antara kondisi sebelum dan sesudah terdapat kegiatan penambangan. Mereka menyebutkan bahwa memang air sungai Dawuan terasa pahit, berbau, dan menimbulkan rasa gatal. Dan yang paling tampak secara kasat mata ialah terdapat perubahan warna air sungai, yang terlihat kehijauan seperti berlumut. Padahal biasanya sebelum terdapat kegiatan penambangan kondisi berlumut ini hanya terjadi di musim kemarau.
Warga yang terkena dampak langsung dari perubahan air sungai Dawuan ini salah satunya adalah Ibu Sumartini dan Bapak Atmo. Bapak Atmo sendiri menyebutkan bahwa selain terasa pahit dan menimbulkan rasa gatal, kehidupan ekosistem di dalam sungai juga berubah.

Sejak beroperasinya tambang dan limbahnya meracuni air sungai Dawuan, sudah tidak lagi terdapat ikan-ikan maupun udang yang biasanya cukup banyak terdapat di Sungai. Hal serupa juga dikemukakan Ibu Sumartini. Padahal mereka berdua menyebutkan bahwa sebelumnya mereka dapat mengambil ikan di sungai tersebut, namun saat ini jika ingin mengonsumsi ikan maka mereka harus membeli sendiri. Terkait dengan indikasi teracuninya air sungai Dawuan ini, dikemukakan oleh Ibu Sumartini hal tersebut telah menimbulkan cukup banyak korban. Terutama bagi masyarakat yang tergantung dengan sungai tersebut (warga masyarakat sekitar sungai). Ibu Sumartini sendiri merupakan salah satu korban, beliau menderita gatal-gatal di sela-sela jari tangan dan di beberapa bagian tubuh, hal serupa juga dialami oleh para tetangganya.

Begitu juga dengan anak Ibu Sumartini, bahkan anaknya sempat mengalami sakit perut, pusing-pusing, mual, sesak nafas dan merasa sakit di bagian dada, yang berdasarkan keterangan dokter merupakan akibat dari pengonsumsian air yang tidak bersih. Sejak saat itu, ibu Sumartini tidak lagi mengonsumsi air sungai tersebut, untuk kebutuhan air minum Beliau terpaksa membeli atau meminta kepada salah seorang tetangga. Meskipun menimbulkan rasa gatal, namun terpaksa masih digunakan untuk kepentingan Mandi, dll, karena merasa kesulitan jika harus mencari sumber air lain. Indikasi bahwa air sungai beracun juga ditunjukkan dengan banyaknya ternak warga yang mati, terutama di daerah Nglorok. Beliau memaparkan bahwa baik unggas (ayam dan bebek) maupun hewan lain banyak yang mati setelah meminum air sungai tersebut.

Keadaan tersebut kemudian menyebabkan warga memutuskan untuk tidak lagi menggunakan sungai Dawuan sebagai sumber air. Padahal sungai Dawuan selama ini merupakan sumber air utama di musim kemarau karena airnya yang tidak pernah kering. Untuk memenuhi kebutuhan air, masyarakat kemudian terpaksa mencari dari sumber air yang lebih jauh lagi. Yang dikhawatirkan oleh warga, apabila kondisi ini dibiarkan terus berlangsung tanpa ada penanggulangan dari pihak perusahaan, maka manakala terjadi kemarau panjang, dan tidak ada sumber air lainnya, warga akan kesulitan memenuhi kebutuhan air sehari-hari, sementara selama ini yang baru dibangun adalah bak-bak penampungan air, untuk selang dan sumber airnya belum disediakan oleh pihak perusahaan. Masalah polusi udara dan suara yang ditimbulkan dari penggunaan bahan peledak memang belum begitu mengganggu warga. Selama ini hanya menimbulkan keterkejutan bagi warga, karena tidak ada peringatan setiap akan dilakukan peledakan. Warga lebih mengkhawatirkan akan terjadi longsor jika terus menerus dilakukan kegiatan pertambangan tersebut.

B.2. PERMASALAHAN SOSIAL EKONOMI

Laporan ini mengambil focus pada dampak social serta ekonomi masyarakat Kluwih atas aktivitas pertambangan yang dilakukan oleh PT.GLI. Sedangkan dampak-dampak pencemaran lingkungan hanya sebagai bahan tambahan untuk menjelaskan keadaan social ekonomi masyarakat.

Secara umum masyarakat Desa Kluwih, Kecamatan Tulakan, Kabupaten Pacitan Jawa Timur berprofesi sebagai petani cengkeh. Selain cengkeh, kelapa menjadi komoditas sekunder masyarakat setempat. Keberadaan PT.GLI yang melakukan proses eksploitasi bahan galian tambang di desa tersebut tidak membawa peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dari sekitar 60 orang pekerja yang ada di PT.GLI, hanya sekitar 5 orang saja yang merupakan sumber daya manusia dari Desa Kluwih. Itu pun hanya menjadi tenaga kasar saja. Salah satu yang berhasil kami temui adalah salah seorang pemuda yang bertugas menjaga dan memperbaiki mesin diesel yang diupah 600 ribu rupiah per bulan. Di desa kluwih sendiri ada 16 keluarga yang mendapatkan Kartu miskin serta Askeskin.

Kebanyakan dari warga tersebut tinggal di pinggir sungai Dawuan. Dari penuturan Ibu Suhartini, yang rumahnya persis berada di pingir sungai Dawuan, air sungai yang biasa dikonsumsi tersebut kini sudah tdak lagi layak konsumsi, karena selain rasanya yang pahit, setelah meminum air tersebut kelurganya juga merasa pusing. Bahkan anaknya yang bernama luluk menjadi sering tidak masuk sekolah karena sering sakit. Sementara untuk pergi ke puskesmas, yang lokasinya jauh, dibutuhkan ongkos Rp 3000,- sekali jalan. Dengan tercemarnya aliran sungai menyebabkan warga yang sudah miskin tersebut menjadi semakin terpinggirkan karena akses mereka terhadap air bersih menjadi hilang, sementara untuk mencari sumber mata air yang lain terlalu jauh dan memerlukan biaya karena harus memasang pipa pengalir air. Sampai saat ini, tuntutan warga untuk dibuatkan bak penampungan air (yang memang sudah menjadi kewaiban perusahaan) sudah dipenuhi oleh perusahaan. Namun bak penampungan tersbut belum bisa dipergunakan oleh warga karena tidak ada air di bak penampungan tersebut.

Selain masalah sulitnya akses masyarakat terhadap air bersih karena tercemarnya Sungai Dawuan, permasalahan ganti rugi tanah warga yang dipakai oleh perusahaan tambang juga belum selesai. Sampai saat ini ada 45 warga yang belum mendapat ganti rugi. Warga yang mendapat ganti rugi hanyalah wargapemilik tanah yang lahannya dipakai sebagai gerbang masuk ke terowongan.
Ketika warga menuntut agar perusahaan segera membayar ganti rugi atas tanah mereka yang dieksploitasi, pihak perusahaan mengelak bahwa warga tidak puya hak untuk meminta ganti rugi, dan perusahaan tidak punya kewajiban untuk membayrnya. Hal itu disebabkan karena menurut PT.GLI, tanah yang menjadi milik masyarakat hanyalah tanah yang berada di atas perukaan tanah, sedangkan isi kandungan yang berada di bawah permukaan tanah adalah mik negara. Hal ini kemudian membuat masyarakat menjadi bingung akan keberadaan tanahnya, apakah mereka berhak memita ganti rugi atau tidak. Kasus ganti rugi ini juga berpotensi menimbulkan konflik antar warga, yaitu pemilik tanah yang sudah mendapat ganti rugi dan warga yang belum mendapat ganti rugi.

1. PENUTUP
Dalam melakukan riset, kami menggunakan beberapa metode yakni, observasi, Wawancara dan FGD. Laporan ini hanya merangkum berbagai aspek dalam hal kekinian saja. Ke depannya potensi permasalahan akan semakin kompleks mengingat banyak hak-hak Ekosob masyarakat yang terabaikan. Demikian laporan riset ini kami sampaikan. Salam Lestari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: