Handaya Aji – Yoyok : Pacitan Masa Depan

Membela Masyarakat, untuk Keadilan dan Kebenaran

Aleg PKS Pacitan Korban Fitnah, Ke Jakarta Handaya Aji Cari Keadilan Hukum Bermodal Sepotong Pakaian

Posted by handayaaji pada Oktober 19, 2010

Handaya Aji tak begitu populer di Jakarta. Tapi di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, namanya begituharum. Dia dipercaya sebagai anggota DPRD Pacitan duaperiode. Tapi kini, nasibnya begitu tragis karena masuk daftar pencarian orang (DPO).

RIKO NOVIANTORO, Depok (Indo Pos)

NUN jauh di sana, pada sebuah kampung yang berjarak 25 km dari tanah kelahiran Susilo Bambang Yudhoyono, terjadi beragam gejolak masyarakat. Tepatnya di Desa Losari, Kecamatan Tulakan, Kabupaten Pacitan. Sebagai wakil rakyat dari Desa Losari, Handaya Aji tak ingin berpangku tangan. Keluhan warganya itu ditanggapi dan dicarikan solusi.

Apalagi jabatan sebagai wakil rakyat ini dipegang selama dua periode. "Saya hanya ingin menjawab keluhan itu. Mencarikan solusinya dan menemukan terobosan dari persoalan warga. Tidak ada niat lain." ungkap Handaya Aji, anggota DPRD dari F-PKS ini saat membeberkan kasusnya di Depok, Jawa Barat, kemarin. Saat mengungkapkan kasusnya, pakaian yang dikenakan sangat sederhana, tak seperti pakaian yang dikenakan anggota dewan. Potongan rambutnya tidak klimis. Apalagi sepatu yang dipakai, terlihat kusam. Jauh dari citra sebagai wakil rakyat yang necis dan klimis.

Jati dirinya hanya terekam pada sebuah Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang menyebutkan dirinya sebagai anggota DPRD Kabupaten Pacitan. Lengkap dengan alamat ru-mah, nama diri, dan tanggal lahir. Handaya kemudian menunjukkan buku data cukup mengejutkan. Selembar surat bukti penetapan status Daftar Pencarian Orang (DPO) yang ditetapkan oleh Kepolisian Kabupaten Pacitan."Penetapan DPO ini terkait status tersangka yang dinyatakan polisi atas dugaan penggelapan uang program Lembaga Ekonomi Produktif Masyarakat Mandiri (LEP-MM) tahun 1998-1999," ungkapnya sambi) menahan amarah dalam dada.

Program tersebut, terang Handaya, merupakan program yang diberikan oleh Departemen Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (saat ini Kementerian Koperasi). Besaran dananya mencapai Rp 59 juta, disalurkan bagi Kelompok Tani Damai di Desa Losari, Kecamatan Tulakan, Kabupaten Pacitan.Program itu dikucurkan saat menteri koperasi dijabat oleh Adi Sasono. Diberikan bagi seluruh kelompok tani se-Indonesia Termasuk 10 kelompok tani di Kabupaten Pacitan. "Secara teknis dana itu sudah disalurkan. Kebetulan saya mantan ketua Kelompok Tani Damai. Bukti penyalurannya sudah lengkap, termasuk rekening bank dan lainnya. Tapi tetap dianggap menggelapkan uang," pungkas pria kelahiran Pacitan, 5 Januari 1970, ini.

Lebih menyakitkan lagi, dia mengaku proses penetapan tersangka itu tanpa proses pemeriksaan sewajarnya. Sejak awal pemanggilan sudah langsung mendapat ketetapan sebagai tersangka. Sekaligus memberikan ancaman-ancaman dan tekanan."Saya tidak pernah diberi surat panggilan. Langsung dijadikan tersangka. Karena tak ingin datang, langsung dinyatakan DPO," kata Handaya yang dikenal aktif memberikan advokasi bagi warga kampung.

Dibeberkan Handaya, kondisi Pacitan sangat rentan tindak pelanggaran. Itu di-picu oleh rendahnya kontrol dari DRPD, masyarakat, dan media massa. Apalagi posisinya memang cukup jauh dari pantauan pemerintah pusat. Padahal, tegas dia, di Kota Pacitan itulah Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dilahirkan.Tanah kelahiran SBY ini diam-diam menyimpan berbagai persoalan. Mulai proyek penggalian tambang emas ilegal, pembebasan jalan yang diganti rugi dengan sebungkus nasi, dan mark up anggaran pemerintah. "Saya sebagai wakil ketua DPRD Kabupaten Pacitan sempat menolak menandatangani APBD Kabupaten Pacitan. Karena di situ ada kegiatan senilai Rp 40 miliar yang merugikan negara," tegasnya.

Proyek tambang emas ilegal, contoh Handaya, merupakan kenakalan bupati Pacitan yang sangat terbuka. Memberikan izin tanpa mekanisme Amdal yang baik. Terbukti dari pencemaran penambangan tersbut. Parahnya lagi, dia menyebutkan proyek itu dikelola oleh Penanaman Modal Asing (PMA). Secara aturan merupakan kewenangan DPR RI untuk ikut terlibat, namun diabaikan pemerintah setempat. Bukti pencemaran tersebut, terang ayah dua anak ini, dilampirkan dari hasil pemeriksaan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jogja. Dari pemeriksaan tersebut ditemukan pencemaran limbah berat yang berdampak pada kerusakan alam dan biota air darat.

"Merasa diperlakukan tak adil oleh Polisi yang kental bernuansa politik, terpaksa harus lari ke Jakarta. Mencari keadilan dan menyampaikan persoalan ini secara terbuka, agar pemerintah mengetahui dan mau campur tangan," jelas Handaya Aji. Di Jakarta, Handaya Aji berjuang merintis keadilan. Berbekal kemeja kusam yang dikenakan, dia berusaha bertemu dengan mitra politiknya. Termasuk mendatangi kantor DPP PKS di Jakarta. Tak hanya itu. Handaya juga melayangkan surat ke sejumlah leVnbaga negara.

Mulai Kepolisian RI, Komnas HAM. Kompolnas, Kapolda Jawa Timur, sampai Satgas Pemberantasan Mafia Hukum. Termasuk pula Kantor Kepresidenan RI. Seluruh rekam jejak yang idlakukan dan bukti atas pelanggaran dibeberkan. Tak terkecuali penetapan sebagai DPO yang dilakukan Kepolisian Pacitan. "Saya bukan takut dipenjara, karena saya memang tidak melakukan kesalahan," pungkasnya dengan suara bergetar. Jika dana Rp 59 juta itu disalahkan, menurut dia, tak menutup kemungkinan kesalahan terjadi pula pada kelompok tani lainnya.

Pemerintah saat ini cukup terbatas. "Saya mendatangi Kementerian Koperasi dan UKM untuk menanyakan status dana ini. Tapi tak satupun pejabat bersedia menjelaskan. Terus kenapa saya yang harus disalahkan," tuturnya. Apalagi, kata dia, semua bukti penyaluran itu ada. Tidak ada sedikit uang yang dinikmati. Semua dana itu tersalur bagi program kelompok tani Damai di Desa Losari, Tulakan. Pacitan (*) Indo Pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: