Handaya Aji – Yoyok : Pacitan Masa Depan

Membela Masyarakat, untuk Keadilan dan Kebenaran

Tentang Saya

Handaya Aji, adalah salah satu anggota DPRD Kabupaten Pacitan Jawa Timur, sebuah kabupaten terpencil yang sangat indah dengan segala potensinya. Minimnya akses transportasi dan informasi media, menjadikan Pacitan yang teramat indah, dijadikan lahan subur korupsi dan tindakan tidak terpuji oknum-oknum penyelenggara negara.

Banyaknya kasus ketidakadilan dan ketidakbenaran yang terjadi di Pacitan, membuat semakin lantang bersuara, beraksi, mengingatkan dan mencegah hal itu untuk berlanjut. Melalui media ini pula, dicoba disuarakan apa yang sudah terjadi di Pacitan, dan bagaimana cara mengatasinya, demi sebuah kemajuan, Pacitan yang lebih baik.

HANDAYA AJI, lahir di Pacitan, Jawa Timur, 5 Januari 1970. Pria asal Desa Losari, Kecamatan Tulakan, Pacitan ini selalu aktif dan terdepan dalam setiap kegiatan pendampingan berbasis masyarakat kecil. Dari hal itulah mendapat beberapa amanah cukup penting. Seperti Ketua Kelompok Tani Damai Desa Losari mulai tahun 1998 hingga saat ini. Selain itu, pernah pula menjabat sebagai Kepala Desa Losari hingga tahun 2004. Dalam pemilu 2004 lalu, dia mendapat amanah sebagai wakil rakyat, tepatnya menjadi sekretaris Komisi B DPRD Pacitan periode 2004-2009. Tak berhenti di situ, pada pemilu legislatif 2009 lalu, dia terpilih sebagai wakil ketua DPRD Pacitan periode 2004-2014.

Selama menjabat sebagai legislator, banyak sekali pendampingan-pendampingan yang dilakukannya terhadap wong cilik. Seperti :
1. Tahun 2007 mendampingi masyarakat pemilik tanah yang akan digunakan JLS. Di Desa Kayen, Kebonagung, Purwoasri, hingga Desa Jetak;

2. Tahun 2007 mendampingi Desa Sukorejo, Kecamatan Sudimoro di lokasi dibangunnya PLTU. Mengingat kala itu ganti rugi atas penggunaan tanah desa seluas kurang lebih 15 Ha, tidak diberikan kepada pemerintah desa atau pemerintah daerah. Dengan alasan, tanah tersebut adalah milik negara, maka ganti rugi tidak diberikan dan tidak dimasukkan ke dalam APBD. Atas penggunaan tanah negara tersebut tidak dilakukan pula tukar guling. Padahal pengguna tanah adalah PLTU dan merupakan BUMN, maka menurut Perpres No 36 tahun 2004 sebagaimana telah diubah dalam Perpres No 65 tahun 2005, harus ada ganti rugi. Sementara tanah warga seluas sekitar 5 Ha mendapat ganti rugi Rp 45 ribu per m2. Sedangkan untuk tanah desa sekitar 15 Ha tentunya harus diganti rugi oleh PLN sebagai BUMN sebagaimana diatur dalam Perpres di atas;

3. Tahun 2008 mendampingi pemilik tanah di Desa Kasihan dan Desa Kluwih yang tanahnya diterowong PT Gilang Limpah Internusa (GLI). Dengan terus berupaya meminta pokok tuntutan, seperti meminta agar pemilik tanah diberi ganti rugi agar tidak terjadi penyerobotan tanah dan bisa menyejahterakan pemilik tanah di areal tambang; Menuntut dihentikannya pencemaran lingkungan dengan cara membangun sarana pengolahan limbah yang baik; Menuntut bagi hasil tambang atas semua material tambang yang diambil, sebagaimana diatur UU Pertambangan. Sebab, selama empat tahun tak pernah memberikan bagi hasil kepada negara (khususnya Pemerintah Kabupaten Pacitan); dan menuntut diberikannya uang jaminan reklamasi, sebab selama ini penambang belum memberikannya;

4. Tahun 2008 mendampingi pedagang Pantai Teleng Ria dan menyuarakan revisi perjanjian sewa Pantai Teleng Ria. Karena dalam perjanjian tersebut pemerintah daerah dirugikan dalam beberapa klausul perjanjian sewa menyewanya. Hal ini dikuatkan oleh audit BPK tahun 2009/2010 yang merekomendasikan agar perjanjian tersebut ditinjau ulang;

5. Tahun 2010 mendampingi pedagang pasar tradisional, menolak kenaikan sewa bedag dan kios. Upaya tersebut berhasil diakomodasi kecuali pedagang Pasar Minulyo Pacitan. Karena kekompakan pedagang Pasar Minulyo kurang. Dugaan penyimpangan dana terjadi pada tahun 2009, sewa kios telah dibayar pedagang Rp 2 juta untuk satu tahun per orang. Padahal tahun tersebut Perda yang mengatur pungutan sebesar itu belum berlaku. Oleh karenanya, sewa sebesar itu tidak mungkin ke kas daerah. Dan, pedagang mau membayar karena bersamaan dengan pembagian kios baru di pasar tersebut;

6. Tahun 2010 ini, dia juga menolak penandatanganan APBD 2010. Karena dinilai merugikan masyarakat. Yakni belanja modal dikurangi hingga hanya Rp 40 miliar. Dan tidak dimasukkannya pendapatan bagi hasil tambang atau pendapatan lain dari pertambangan timah. Padahal penambang pasir yang mendapatkan rezeki dengan cara berendam di air seharian mampu memberi kontribusi Rp 100 juta lebih pada tahun 2010, sementara tambang timah yang perusahaan asing tidak memberikan pemasukan daerah.

Dari berbagai kegiatan pendampingan tersebut ybs sempat dikriminalisasi sistem politik tingkat tinggi birokrasi di Pacitan. Bahkan, demi memahami kasus yang dijeratkan kepadanya itu, dia sempat meminta bantuan kepada banyak pihak, seperti Komnas-HAM hingga Satgas Anti Mafia Hukum. Sikapnya itu dilakukan untuk memastikan bahwa proses hukumnya itu bukan semata untuk menghentikan sikap vokal dan perbedaan pendapat dengan pihak manapun. Pasalnya, sikap vokal itu adalah upayanya dalam menjalankan tugas pengawasan dan kontrol yang merupakan kewajiban sebagai seorang wakil rakyat, sebagaimana diatur dalam UUD 1945.

Kini, melalui buku ini, dia berupaya membuka sedikit gambaran beberapa permasalahan di Pacitan, tanah kelahiran Presiden ke-enam Republik Indonesia. Tanpa dilandasi tendensi apapun. Dalam arti, semua ini dipersembahkannya untuk warga Pacitan. Terutama kaum mustadl’afin yang selama ini menjadi korban kesewenang-wenangan sistem. Mulai sistem politik, hukum dan birokrasi. Termasuk menunjukkan kepada publik, bahwa Pacitan bukanlah daerah yang masyarakatnya mudah dibodohi meski rasa solidaritas dan kekeluargaan masih dijunjung tinggi. (*)

5 Tanggapan to “Tentang Saya”

  1. ammar tsqb pct said

    handaya aji adalah bapak sya perjuangan nya terhadap islam sangat besar juga semangat membahagiakan orang lain juga tinggi saya tau bagai mana abi saya orang nya sangat hebat.
    ALLAHUAKBAR…….! UNTUK KEMEN NGAN ISLAM.

  2. yohokama said

    maju terus pantang mundur mas yok orang berbuat baik awalnya pasti banyak musuhnya namun kemenangan akhirnya dipihak kebaikan

  3. Terus berjuang Mas Yok..

  4. Abu Ifa said

    Ayo Mas Kami Mendukung…

  5. Jika salah satu anggota tubuh kita tersakiti (terzolimi) maka seluruh anggota tubuh yang lain akan merasakan dan segera memberi bantuan. Terus berjuang Pak Yoyok, Bapak adalah bagian dari anggota tubuh Partai Dakwah ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: